Rabu, 12 Agustus 2015

Sisi Lain Pendidikan Pesantren

         Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini adalah fitrah (suci), tanpa pengetahuan apapun. Dalam perjalanan hidup mereka harus mencari sesuatu yang dibutuhkan agar bisa terus hidup dalam dunia yang semakin banyak tantangan. Salah satu hal yang paling penting dalam hidup ialah pendidikan. Jika seseorang tanpa pendidikan, bisa dipastikan dia akan kesusahan dalam menjalani kehidupan sehari. Contoh yang paling kecil saja, petani. Mereka harus mempunyai keahlian, seperti mencangkul, cara menggunakan alat-alat pertanian dll. Kelihatannya memang mudah, tetapi ketika kita yang tidak terbiasa mencangkul dan menggunakan alat-alat pertanian tersebuat, maka akan kesulitan menggunakannya. Disini dapat kita ambil, bahwasanya sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan, pasti membutuhkan ilmu atau pendidikan. Wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah sepertinya kurang efesien jika pendidikan umum tidak diimbangi dengan pendidikan agama atau pendidikan pesantren. Telah banyak contoh dimasyarakat seseorang yang hanya mengenyam pendidikan umum tanpa mempelajari ilmu-ilmu agama, hasilnya setelah lulus kebanykan dari mereka menjadi pengangguran. Disisi lain faktor biaya menjadi hambatan sebagian dari mereka yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Karena kenyataannya banyak saudara-saudara kita yang mempunyai kelebihan tetapi tidak bisa sekolah. Bukan tidak mau sekolah, bukan malas sekolah, masalah yang utama mereka ialah terbentur dengan masalah biaya, sehinggamereka lebih memilih membantu orang tua untuk mencari nafkah buat makan sehari-hari, dari pada melanjutkan pendidikannya. Dalam belajar seseorang seharusnya bisa berfikir secara matang tentang pendidikan yang dijalaninya. Jangan sampai ketika sudah masuk satu Sekolah, Universitas, ataupun Pesantren, karena alsan tidak krasan, kemudian mereka meningglkan lembaga tersebut. Dalam budaya pesantren hal ini dianggap kurang baik, sebab dianggap meremehkan lembaga yang ditempatinya dan juga para pendirinya. Untuk mencari ilmu yang manfaat dan barokah, sering kali disalah artikan oleh prlajar yang kurang keilmuannnya dalam masalah agama. Ketika mereka melihat seoraang santri yang disuruh Kyainya melakukan hal-hal yang diluar nalar mereka. Seperti kalau santri zaman dulu disuruh ke sawah, disuruh menggembala kambing kyainya. Mensite mereka pasti akan menganggap bahwasanya hal itu tidak ada manfaatnya. Tetapi berbeda dengan orang yang pernah marasakan pahit manisnya hidup dipesantren, mereka pasti akan lebih memilih melakukan hal tersebut, sebab mereka tahu bahwa ilmu hikmah dan barokah itu tumbuh dari hal-hal yang kelihatan sepele itu.
Tujuan meninggalkan rumah untuk berangkat kepesantren tidak lain untuk mencari ilmu demi masa depan hidup. Seringkali orang yang awal nyantri belum memahaminya, yang ada dalam otak mereka hanyalah dapat ilmu agar bisa mendapat pekerjaan kemudian mendapatkan uang. Budaya kurang baik ini seharusnya dihilangkan dari fikiran kita, karena hanya merusak atau membuat sesuatu yang sudah kita rencanakan ketika masuk pesantren atau sebuah lembaga pendidikan. Salah satu yang harus diperhatikan dalam tholabul ilmi adalah melakukan apa yang diperintahkan oleh guru atau Kyai. Ilmu yang bermanfaat tidak akan pernah diperoleh jika tidak memuliakan ilmu dan ahlinya. Dalam Ta`lim Al Muta`alim disebutkan “mereka yang mencari pengetahuan hendaklah selalu ingat bahwa mereka tidak akan pernahmendapatkan pengetahuan atau pengetahuannya tidak akan bergumna, kecuali kalau ia menaruh hormat kepada pengetahuan tetrsebut dan juga menaruh hormat kepada guru yang mengajarkannya. Hormat kepada guru bukan hanya sekedar patuh. Sebagaiman dikatakan oleh Sayyidina Ali, “saya ini hamba dari orang yang mengajar saya, walaupun itu hanya satu kata saja”. Banyak hal-hal yang terjadi dipesantren jika orang melihat seperti itu tidak mungkin. Salah satunya ialah barokah dari para Kyai adan Dzuriyahnya. Ini sering terjadi pada orang-orang dahulu, dimana mereka yang tinggal dipesantren untuk menambah wawasan mengenai ilmu pengetahuan tidak hanya sekedar ingin pintar, akan tetapi ada tujuan yang lebih penting dari itu, yakni bagaimana ilmu yang sudah diperolehnya dengan perjuangan dan susah payah dapat berguna atau bermanfaat untuk masyarakat. Karena apalah gunanya ilmu banyak tetapi tidak bermanafaat. Untuk mencapai itu berbagai cara dilakukan, dari taqarrub kepada Allah dengan berdo`a agar diberi ilmu yang bermanfaat sampai melakukan riyadhoh-riyadhoh. Ngabdi kepada kyai terkadang lebih dipilih dari pada belajar selama bertahun-tahun, karena mereka tahu esensi yang terdapat dalam sebuah pengabdian.
Inilah salah satu hal yang menarik dari pendidikan karakter yang ada dipesantren yang tidak ada dilembaga-lembaga lain. Menyinergikan antara pendidikan yang ada pada umumnya dengan pendidikan pesantren ini sudah diterapkan dipesantren tebuireng, dimana saat itu antara tahun 1932 dan 1933, sewaktu KH Wahid Hasyim berumur 17 tahun, ia belajar 1 tahun di makkah. Sekembalinya di Tebuireng, ia mengusulkan kepada sang ayah yakni KH Hasyim Asy`ari suatu perubahan radikala dalam pengajaran dipesantren. Usul itu antara lain agagr sisitem bandongan diganti dengan sisitem tutorial yang sisitematis dengan tujuan untuk mengembangkan inisiatif dan kepribadian para santri. Ini berarti pengajaran dipesantren tidak terbatas hanya pengajian kitab-kitab klasik, melainkan para santri diajarkan lebih banyak lagi mata pelajaran umum. Pada tahun 1950, Kyai Wahid Hasyim menjelaskan usul perubahan itu sebagai berikut: mayoritas santri yang belajar di lembaga-lembaga pesantren tidak bertujuan menjadi ulama. Bagi mereka ini sebenarnya tidak perlu mempelajari bahasa arab dan kitab-kitab klasik dalam bahasa arab. Dengan demikian, mereka selama ini dianggap oleh Kyai wahid Hasyim melakukan sesuatu yang memboroskan waktu saja. Hadratus-syekh tidak menyetujui usul-usul Kyai Wahid Hasyim tersebut. Namun demikian, beliau menyetujuiusul Kyai Wahid Hsyim yang lain yaitu pendirian madrasah nidhomiyah pada tahun 1934 dimana pengajaran pengetahua umum merupakan 70 persen dari keseluruhan kurikulum. Tak hanya itu, beliau juga mendirkan perpustakaan dan menganjurkan para santri untuk memmbaca majalah, surat kabar sebanyak mungkin agar memperoleh penerangan baik soal ekonomi, sosial dan politik, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Kemudian dalam sosial, pesantren mampu mendidik santri untuk lebih peka atau perduli lingkungan sekitar, karena mau tidak mau mereka akan menghadapinya kelak ketika sudah menamatkan pendidikannya dipesantren. Bersungguh-sungguh dipesantren harus dilakukan, dengan membuat target apa yang ingin dicapai, apa saja yang perlua dipersiapkan. Dan kesuksesan tergantung pada dirinya sendiri, terkadang ada santri berfikiran bahwa cukup dengan mendapat barokah tanpa adanya usaha belajar. Lha wong barokah itu datangnya dari usaha belajar kita, bagaimana bisa barokah itu datang sendiri tanpa belajar.
Masih banyak sisi lain yang menarik dari pendidikan pesantren, akan tetapi penulis membatasi bahwasanya lembaga pendidikan berbasis pesantren tidak hanya mempelajari kitab-kitab klasik saja, tetapi pesantren juga bisa memunculkan benih-benih pemimpin-pemimpin bangsa. Kesalahfahaman seseorang bahwa pesantren yang memasukkan pendidikan ilmu umum dianggap telah meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan yang telah dibangun oleh para pendiri, padahal jika kita menilik kebelakang, tujuan dimasukkannya pendidikan ilmu-ilmu umum ini bukan meninggalkan nilai-nilai pesantren, akan tetapi lebih menitik beratkan agar pemimpin yang ditelurkan melalui pesantren bisa memimpin masyarakat dengan patuh kepada ajaran-ajaran agama islam, karena krisis kepemimpinan banyak terjadi, mereka yang notabennya pandai, pintar, dan mempunyai kehlian dalam bidangnya, tetapi tidak mengimbanginya dengan ajaran-ajaran islam. Maka muncullah pencuri (koruptor) dan teman-temannya. 





          

Jumat, 08 Mei 2015

Membudayakan pentingnnya proses dari pada hasil

“Mendapatkan hasil yang baik memang penting, akan tetapi proses untuk menuju keberhasilan jauh lebih penting”

            Kebanyakan dewasa ini minedset remaja sekarang masih terkontaminasi dengan hal-hal yang serba instan. Tak pelak ini menjadi bumerang bagi bangsa kita, sebab jika ini terjadi maka siapa yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa, lemah dan kuatnya bangsa ini ada dipundak mereka. Jika hanya berorientasi pada hasil dari pada proses yang harus mereka jalani, maka kebiasaan tersebut akan mempengaruhi gaya berfikir mereka menjadi melakukan apapun yang penting berhasil, padahal semua itu membutuhkan proses. Dari sini mental mereka akan diuji, seberapa kuat dalam menghadapi masalah-masalah yang ada, bukan hanya berfikir pada hasil akhir. Semua orang juga bisa jika hanya memikirkan hasil dan melupakan bagaimana cara yang baik untuk melakukannya.   
            UN ( Ujian Nasional) sudah lewat, banyak dari para pelajar yang berharab agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan agar bisa melanjutkan keperguruan tinggi yang diinginkan. Cara apapun akan mereka lakukan demi mendapatkan kelulusan, entah itu menerima kunci jawaban dari teman, ataupun membeli dari para calo yang tidak bertanggungjawab. Apa boleh buat UN sudah didepan mata, sedangkan persiapan belum dilakukan 100%. Ditambah lagi dengan ketidak percaya diri an para siswa. Pada akhirnya mereka akan melakukan cara apapun untuk lulus. Sejak remaja sudah seperti ini, bagaimana jika nanti mereka diberi amanah untuk memimpin bangsa ini ?. contohnya para koruptor, dalam hal keilmuan mereka boleh dibilang ahli, akan tetapi mereka diperbudak oleh ilmunya sendiri dan tidak bisa menahan nafsu jeleknya. Apakah mereka lupa bahwa Rasulullah SAW adalah sebaik-baik teladan bagi kaum muslimin. Kalau tidak mau menjadikan Rasululloh sebagai teladannya, lau siapa lagi ?. Allah telah menjelaskan dalam al-Qur`an surat al-Ahzab ayat 20 :
yang artinya :
            “Sungguh, telah ada pada diri Rasululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharab (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”.
Apakah mereka akan bangga dengan nilai yang diperoleh dari proses yang kurang baik, bahkan bisa dikatakan memperburuk citra bangsa dimata bangsa. Sejak remaja aja sudah tidak jujur, apalagi nanti kalau sudah mempunyai tanggunhgan yang harus diembannya.
            Dijadikannya manusia sebagai khalifah dibumi ini agar mereka bisa menjaga apa-apa yang ada bumi. Apalagi tanggal 22 april diperingati sebagai hari bumi, seharusnya mereka lebih melihat bagaimana keadaan bumi kita indonesia, bukan hanya mengambil hak orang tanpa memikirkan kerugian yang akan dialami orang tersebut. Walapun bumi kita indonesia ini kaya akan SDA, akan tetapi berapa banyak yang dikuasai oleh bangsa asing, seperti kasus freepot. Jangan sampai terulang kembali, sebab ini menunjukkan bangsa kita seolah-olah terjajah oleh bangsa eropa.
            Tidak hanya para remaja, maraknya pencurian, pencopetan dan tindakan kriminal lainnya yang dilakukan oleh orang dewasa rata-rata alasannya adalah terpaksa mencuri, terpaksa mencopet karena jika tidak melakukannya, keluarganya akan kelaparan. Cara berfikir yang salah harus segera di benahi sebelum menjalar untuk melakukan hal-hal yang lebih kejam dari pada pencurian dan pencopetan, seperti melakukan pembunuhan, mutilasi dll.
            Dalam islam juga banyak menjelaskan mengenai pentingnya sebuah proses dalam melakukan suatu pekerjaan. Seperti dalam al-Qur`an terdapat ayat
أدعوني استجب لكم
“Berdo`alah kepada ku, maka aku akan mengabulkannya”

Maksud dari ayat diatas bukan hanya kita berdo`a dengan menadahkan kedua tangan saat sholat kemudian tidak melakukan ikhtiar (usaha), lebih dari pada itu, Allah menyuruh kita berdo`a kemudian melakukan ikhtiar sekuat tenaga. Jangan berharab kesuksesan jika tanpa usaha. 

Jumat, 01 Mei 2015

Ketahanan Menulis

Peradaban menulis adalah peradaban yang paling tinggi, sebab kegiatan menulis sendiri adalah kegiatan yang menyenagkan sekaligus bermanfaat untuk sang penulis. Selain mengasah kemampuan berfikir seseorang, kegiatan menulis akan membuat kita ada, coba kita bayangkan seadainya ulama`-ulama` salafi tiaadak menulis, mungkin nama mereka akan tinggal kenangan tanpa karya. Kita ambil contoh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama` KH.M. Hasyim asy`ari, berapa banyak karangan kitab beliau, imam suyuti dan masih banyak Ulama`-Ulama` yang tidak kita ketahui. Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwasanya tradisi menulis sudah di contohkan oleh guru-guru kita terdahulu. Tugas kita sebagai kaum santri yang notabennya mempunyai latar belakang agama yang mempuni, sudah saatnya menulis untuk keabadian. Jadikanlah kegiatan manulis sebagai perefres otak, setelah seharian kita diasupi ilmu-ilmu yang ada disekolah maupun dipesantren.
            Sebaiknya jika seseorang menulis usahakan kita menulis dengan memakai hati, jika seperti itu maka pembaca akan membacanya dengan hati, seperti imam ghozali, siapa yang tidak dengar kitab Ihya` Ulumuddin, disetiap pesantren pasti mengkajinya. Ketika mendengarkan atau bahkan membacanya hati kita terasa tersentuh dengan kata perkata yang ditulis beliau di dalam kitab Ihya`. Inilah salah satu contoh betapa pentingnya menulis dengan hati, bukan hanya sekedar mengandalkan akal pikiran.
            Tidak hanya teknik menulis yang kita pelajari, membaca adalah salah satu faktor yang menentukan baik-buruknya tulisan. Berdekatan dengan buku yang harus atau bahkan wajib kita lakukan agar tulisan yang kita hasilkan bisa berkualitas dan diterima oleh pembaca. Kebanyakan dari kita jka sudah menghasilkan karya atau dalam kata lain dianggap ahli dalam menulis biasanya akan malas untuk menulis setiap hari atau bahkan tidak menulis sama sekali. Jika ini terjadi, maka kita akan kesulitan untuk memulainya kembali. Sama saja dengan membaca al-Qur`an, jika biasanya kita membaca al-qur`an setiap hari 1 juz, kemudian beberapa bukan kita sama sekai tidak membacanya, maka kita akan kesulitan untuk membacanya atau tidak selancar ketika setiap hari one day ane ayat.

Straregi menulis opini

   1.      Judul
   2.      Penguasaan masalah
   3.      Paragraf 1-3 pendahuluan, paragraf 4-6 mencoba menyajikan fakta/bukti-bukti, paragraf 7-8 kita telusuri/mencari dalil yang berhubungan dengan tema baik dalam al-Qur`an, Hadist, Kaidah Fiqh, Pendapat tokoh, dan yang lainnya. Kemudian untuk yang terakhir paragraf 9-10 tentang kesimpulan masalah yang kita bahas. 
Tambahan penguat :
  1.      Fakta/Bukti
  2.      Dalil/dasar : ayat al-Qur`an, Hadist, Kaidah, pendapat Tokoh
  3.      Kesimpulan
sekolah semulis jilid 3 oleh ahmad fao/jum`at 01 mei 2015

Minggu, 19 April 2015

Ferlek Ucapan

           
Mencari kesenangan adalah hal yang wajar oleh seorang manusia, karena manusia sendiri butuh sesuatu yang bisa merefres pikiran setelah melakukan suatu aktifitas. Dari sinilah mereka berangkat untuk berfikir dan menentukan masa depan yang ingin dicapainya. Kadang kala sebuah permainan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak terduka, bahkan hal-hal yang negatif sekalipun.
            Banyak kita lihat di warung, wartek, maupun di pesantren. Tidak lain itu semua untuk mengekspresikan apa yang mereka ingin ungkapkan. Terkadang untuk mengungkapkan sesuatu yang ingin kita ungkapkan membutuhkan kesadaran akan manfaat ucapan tersebut, sebab baik tidaknya ucapan akan dinilai dari apa dampak yang akan terjadi jika mengatakan sebuah kalimat. Akan tetapi seseorang tidak sadar apa yang mereka ucapkan acapkali tidak ada faidah atau manfaatnya. Apa yang mereka pikirkan ?, apakah kakibat kurangnya ilmu ?, kurangnya iman ? atau bahkan tidak mengerti tentang disiplin ilmu, akan tetapi berkata seakan-akan seperti mempunyai ilmu. Itu tidak ada bedanya dengan orang bodoh. Kejadian ini juga sering kali terjadi di pesantren-pesantren, dimana para santri ketika melakukan suatu aktifitas  tidak sadar secara ferlek mengucapkan hal-hal yang kurang penting.

            Maka dari itu kita perlu membiasakan berkata dengan kata-kata yang baik, bukankah ada peribahasa “Mulutmu Harimau Mu”. Berdzikir adalah hal yang paling efektif untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dalam berbica, dan menjaga lisan kita dari mengucapkan kata-kata yang tidak baik atau tidak berfaidah. Bukankah dalam al-Qur`an Allah telah menjelaskan bahwa dzikir itu bisa menenangkan hati.   

Jumat, 10 April 2015

Bahaya Aurat

            Betapa banyak alloh memberikan nikmat kepada makhluknya, sampai-sampai nikmat itu tidak terhitung. Termasuk juga nikmat sehat, kesehatan tubuh adalah faktor paling utama dalam melakukan semua aktivitas yang kita lakukan. Tidak heran ketika seseorang sakit kepala aja, semua pekerjaannya akan menjadi berantakan. Akan tetapi beda lagi ketika kita tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikannya, seperti membuka aurat, baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi terkadang manusia itu sering lupa bahwa kewajiban bagi seorang muslim adalah menutup aurat, lha ini tugas kita sebagai sesama muslim harus saling memperingatkan satu sama lain agar tidak terjerumus dalam lembah setan yang hina.
             Saat ini sedang gencar-gencarnya negara-negara barat melakukan perusakan moral melalui media sosial yang disitu banyak mempertontonkan aurat yang tidak sepantasnya untuk ditonton. Ini taktik atau usaha negara barat untuk merusak moral para generasi muda muslim didunia. Bukan hanya itu, pemerintah kita saat ini dilanda galau mengenai pemblokiran situs-situs islam yang dianggap merusak moral, padal tidak semua situs islam yang ada seperti itu. Yang menjadi pertimbangannya, mengapa situs-situs yang merusak generasi bangsa malah dibiarkan merajalela, perlunya pengawalan penuh dari pemerintah untuk selalu waspada akan hal-hal yang tidak terduga yang muncul dari media-media yang tidak bertanggung jawab dan juga menyaring situs-situs islam antara yang dianggap merusak dan yang dianggap bermanfaat.  Kembali kita harus memikirkan bagaimana agar pemimpin kita bisa mengerti agama islam dan melakukannya dengan 100%. Saat ini banyak pemimpin yang berlatar belakang islam akan tetapi pengetahuan mereka tentang islam sangat minim. Ini yang menjadi pengaruh mengapa para pemimpin kita bisa begitusaja tunduk pada negara-negara eropa.

Dalam Al-Qur`an surat Al-A`Raf ayat 31 alloh berfirman :

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚإِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
Yang artinya : wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebihan, sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.
            Sudah jelas digambarkan didalam surat tersebut bahwa kita hidup didunia ini disuruh memakai pakaian yang indah, yang dimaksud indah ialah pakaian yang menutupi aurat, sebab dewasa ini banyak pakaian-pakaian yang indah dan bagus dipandang, tetapi dari segi syariah hal tersebut tidak masuk pada kriteria yang diinginkan oleh islam. Yang lagi buming-bumingnya ialah fenomena jilbobs, yakni wanita yang memakai pakian yang super ketat sampai kelihatan bentuk lekuk tubuhnya, dan lebih parahnya lagi dia memakai kerudung akan tetapi tidak sampai menutupi dadanya, sedangkan sudah tergambar jelas dalam Al-Qur`an bahwa perempuan ketika memakai kerudung harus menutupi dada. ini yang menyebabkan banyaknya kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan. Kejadian ini yang sering terjadi akibat ketidaktahuan mereka mengenai pemakaian jilbab yang syar`i itu seperti apa.

            Seperti yang telah kita ketahui batasan aurat laki-laki ialah antara pusar sampai lutut, sedangkan aurat seorang perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.sudah saatnya kita sadar dan bangkit untuk melawan mereka yang mau menghancurkan islam. Maka dari itu dengan zaman yang semakin modern ini, kita harus menjaga diri dari pengaruh-pengaruh barat yang mau merusak, khususnya dalam hal moral.

Minggu, 05 April 2015

Memahami Hakikat Waktu


    Waktu adalah kata yang sering kita dengar dimana pun kita berada, baik di sekolah, tempat kerja, dan juga dimasyarakat sosial. Sebab kata yang satu ini selalu di sinkronkan atau dihubung-hubungkankan dengan aktivitas-aktivitas manusia dalam menjalani kehidupan didunia. Bahkan ada sebuah makolah “waktu itu diumpamakan seperti pedang, jika tidak menggunakan atau memanfaatkannya dengan baik, maka kita akan dipotongnya. Ini yang sering terjadi di masyarakat kita, kebanyakan dari kita belum bisa memaknai hakikat waktu itu seperti apa. Apa yang harus dikerjakan ? apa yang harus dilakukan dengan waktu yang ada ? bagaimana cara mengaturnya agar bisa bermanfaat bagi masyarakat pada umum nya dan pada dirinya sendiri khususnya ?. sikap menghargai waktu perlu ditumbuhkan pada mindset kita, agar tidak menyesal dikemudian hari,  karena waktu yang kita lewatkan tidak akan pernah kembali, terutama pada para remaja yang cenderung suka pada hal-hal yang baru, itu sangat lumrah, sebab mereka masih dalam proses pencarian jatidiri. Dan tidak terkecuali orang dewasa.
            Para ulama` salaf  memberikan dasar atau cara memanfaatkan waktu yakni “waktu paling baiku ntuk menghafal adalah waktu sahur (menjelang subuh), dan untuk mempelajari sesuatu adalah pagi-pagi, adapun untuk menulis adalah pertengahan siang sedang untuk menela`ah dan mengulang pelajaran adalah malam hari”. Dari waktu-waktu yang sudah dibagi tersebut jika kita selaraskan dengan keadaan generasi bangsa saat ini, masih sangat jauh sekali. Kita lihat sekarang banyak berita-berita yang selalu terkait dengan para remaja yang digadang-gadang sebagai penerus perjuangan bangsa. Jangan heran kalau mereka selalu di hubungkan dengan minuman-minuman keras, seks bebas, narkoba, dan lain sebagainya.  
            Kesadaran diri adalah obat yang paling utama, karena semua yang kita lakukan tidak terlepas dari keinginan yang ada pada diri sendiri. Nabi mengatakan bahwa jihad yang paling berat adalah jihad melawan nafsu. Jika tidak bisa mengendalikannya dengan hal-hal yang positif, nafsu tersebut akan menguasai kita. Memaksa untuk berbuat baik adalah pilihan yang tepat, manusia hidup di dunia ini tidak akan luput dengan ganggguan setan. Setan akan mengganggu manusia agar selalu melakukan hal-hal yang negatif, sedangkan Allah memerintah untuk melakukan kebajikan. Apakah kita mau menerjang larangan-larangannya ?. Kita selalu menjatkan do`a Rabbana Atina Fiddunya Hasanah WaFil Akhirati Hasanah Wakina Adzabannaar, dimana inti dari do`a tersebut ialah meminta diberi kebaikan baik didunia maupun diakhirat dan meminta dijauhkan dari adzab neraka. tetapi Jangan hanya berdo`a dengan lisan, akan tetapi perlu diyakini dengan hati dan merealisasikannya dengan perbuatan.
            Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendirian, mereka membutuhkan orang-orang yang ada disekitarnya atau bisa disebut hablu minanaas. Saling tolong-menolong dan saling nasehat-menasehati adalah ciri seorang muslim yang kaffah. lingkungan yang ada disekitar kita bisa saja menjadi obat buat kita dan juga bisa juga menjadi sebuah racun yang sangat mematikan. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bisa dengan mempertebal iman kepada sang pencipta (Allah SWT). Bukan hanya itu kita harus mempunyai keahlian bersosialisasi dengan mereka, jika salah bicara bisa-bisa itu akan menjadi bumerang yang mengancam diri kita. Motivasi dari seseorang yang dianggap mampu dalam hal ilmu pengetahuan memang perlu. Akan tetapi motovasi yang paling manjur ialah motivasi dari diri sendiri.
Didalam alqur`an ada banyak ayat yang membahas tentang waktu, seperti  Demi waktu dhuha ( ketika matahari naik sepenggalah)(QS. AD-DUHA : 1), Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari (QS. ASY-SYAMS : 1), Demi malam apabila menutupi (QS.AL-LAIL : 1). Tidak hanya dalam ketiga surat itu. Dalam surat Al-Asr dijelaskan yang artinya Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. Dari ayat-ayat al-qur`an tersebut dapat kita ambil hikmahnya, sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang melakukan kebajikan, saling tolong-menoling pada sesama.
Betapa banyak saat ini orang-orang disekitar kita yang menyia-nyiakan waktu yang ada. Mungkin mereka berfikir bahwa besok masih ada waktu yang lain. tetapi waktu sekarang dan besok itu berbeda. Ketika sudah meninggalkannya, maka tidak akan bisa kembali lagi. Penyesalan terhadap waktu yang telah berlalu adalah penyesalan yang tinggal penyesalan. 
الوقت أنفاس لا تعود
Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.

Seseorang akan merasa bahwa waktu yang ditinggalkannya sangatlah berharga ketika mereka menginja usia senja (tua). Seringkali yang mereka hanya kesenangan sesaat, sementara kesenangan didunia adalah bayangan semu.
           Kehidupan didunia ini penuh dengan ujian, dan dalam ujian tersebut Alloh selalu menyelipkan hikmah bagi mereka yang mampu melampaui ujian tersebut. Bahkan bisa jadi ujian yang diberikan kepada manusia itu untuk menyadarkan bagi mereka yang lalai akan nikmat yang ada pada dirinya. Dewasa ini kebanyakan mereka mengatakan bahwa saya beriman kepada Alloh, tetap disisi lain mereka mengeluh ketika diberi ujian atau cobaan. Seperti yang digambarkan dalam Al-qur`an :

احسب الناس ان يتركوا ان يقولوا ءامنا وهم لا يفتنون – ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكذبين
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabuut 2-3).
             Maka dari itu perbanyaklah berbuat kebajikan didunia ini, hidup hanya sementara dan umur kita juga terus berkurang. Jangan sampai ketika dihisab nanti amal kejelekan kita lebih banyak dari pada amal kebajikan.Wassalam..